Tidak Semua Hal Bisa Dipaksa untuk Terus Diperjuangkan

Ilustrasi orang sedih
Sumber :
  • Pixabay

Gorontalo – Malam kian dekat peraduannya. Darwis dan Arimi masih nyaman diam-diaman di sudut kedai kopi kecil dekat kampus.

img_title Pelukan Orang Tua Bikin Anak Pintar, Ini Manfaat LaiMemeluk Anak Setiap Hari

“Terus gimana?” kata Darwis membuka percakapan setelah hampir satu jam diam-

diaman.

img_title Ramalan Zodiak Cinta 19 Mei 2024: Waktunya Perkuat Romantisme dengan Pasangan

“Kamunya yang gimana!” jawab Arimi.

“Setelah nikah, kita punya tanggungan lebih besar. Harus beli rumah, kenderaan, biaya hidup sehari-hari, belum kalau sudah punya anak. Biaya segitu bisa jadi modal hidup setelah nikah!” kata Darwis.

img_title 7 Tanda Seseorang yang Gamon dari Cinta Masa Lalu, Apa Kamu Termasuk?

“Gak usah bertele-tele. Nikah aja belum. Kamu mikirnya kejauhan. Pokoknya, kalau sampai Februari kamu belum juga datang, maaf, terpaksa aku terima pinangan orang lain!” timpal Arimi.

Darwis dan Arimi memang mengatur janji bertemu. Setiap kali bertemu topiknya selalu sama; tentang pernikahan. Topik yang tidak terhitung lagi berapa kali mereka bahas.

Keduanya hidup terbentang jarak ratusan kilometer. Dipertemukan oleh studi di kampus yang sama pada tahun 14 tahun silam. Mereka pacaran sejak semester dua. Tidak terhitung lagi berapa kali mereka bertengkar, berapa kali putus nyambung, berapa banyak biaya untuk pacaran, dan berapa banyak misi terselubung saat lagi berduaan.

Keduanya memang selaras dalam rasa, tapi tak sama cara pandang. Terlebih soal pernikahan. Sejak lima tahun lalu, saat keinginan menikah itu muncul, hingga sekarang rencana itu terhalang tembok besar ego dan gengsi. Biaya nikah terlampau tinggi pengaruh citra keluarga besar di belakang.

Darwis berpandangan syarat menikah paling utama bukanlah biaya, melainkan kesiapan mental dan menata niat. Harus siap untuk meletakkan mental di atas berbagai macam masalah, keruwetan-keruwetan, dan aneka problema. Bukan tergantung pada kemampuan finansial, usia pacaran, atau syarat-syarat lain.

Pandangan seperti ini selalu mental di hadapan sikap Arimi yang suka mendramatisir keadaan. Suka membanding-bandingkan hubungan mereka dengan pasangan lain.Harap-harap rencana berjalan mulus, perdebatan justru mengalir terus.

Selepas menebar ancaman, Arimi pergi. Entah ke mana punggungnya berlalu. Darwis tidak bergeming. Hanya memegangi gagang gelas kopi di meja. Aneh! Belum juga mencicipi mie instan dan roti bakar yang dipesan, Darwis terserang rasa mulas.

Halaman Selanjutnya
img_title