Peneliti Asal Belanda Prediksikan Gempa Turki Lewat Twitter, Hasilnya Tepat

Reruntuhan bangunan usai kejadian gempa
Sumber :
  • AP Photo / Mahmud Bozarsan

Gorontalo – Tiga hari sebelum terjadinya gempa di Turki dan Suriah, seorang peneliti asal Belanda, Frank Hoogerbeets memprediksi akan terjadi gempa berkekuatan besar di Turki.

img_title Pacar Mario Dandy Kecewa dengan Diri Sendiri, Udah Sadar?

Prediksi Frank diunggah lewat twitter pribadinya @hogrbe pada 3 Februari kemarin. Dalam unggahannya Frank menulis bahwa cepatatau lambat akan terjadi gempa bumi berkekuatan 7,5 skala ritcherdi wilayah Turki Selatan-Tengah, Yordania, Suriah, dan Lebanon.

Tiga hari setelah menulis tweet tersebut, tepatnya pada 6 Februari 2023, gempa dahsyat berkekuatan 7,8 skala ritcher mengguncang Turki bahka terasa hingga ke beberapa negara tetangga.

img_title Orang Pertama Termakan Skenario Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan Divonis 3 Tahun Penjara

Bahkan menurut laporan Al Arabiya di hari yang sama sempat terjadi gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 6,5 sampai 7,5. ribuan orang dinyatakan meninggal danratusan gedung porak poranda.

Hingga saat ini, korban meninggal akibat gempa dahsyat yang melanda Turki dan sekitarnya mencapai 4.600 jiwa. Proses evakuasi terbilang berat karena sempat terhambat suhu dingin dan kurangnya alat berat.  

img_title BMKG: Indonesia Punya Sesar Mirip Pemicu Gempa Turki, Salah Satunya Sesar Gorontalo

Korban WNI

Juru bicara Kementerian dalam Negeri, Teuku Faizisyah mengatakan aibat gempat tersebut 10 orang WNI mengalami luka-luka. Saat ini pihak KBRI Ankara sedang mengupayakan rumah penampungan sementara untuk para korban.

"4 orang menjalani perawatan di rumah sakit dan 6 orang lagi sedang di evakuasi,"kata Teuku Faizisyah lewat konferensi pers, Selasa 7 Februari 2023.

Sebagaimana diketahui, jumlah WNI yang terdata tinggal di Turki sebanyak 6.500 jiwa. Sementara 500 orang tinggal di daerah yang menjadi pusat gempa dan sekitarnya.  WNI yang tinggal di Turki terdiri dari beberapa profesi.

Ada yang berstatus mahasiswa, bekerja di organisasi internasional, ada pula yang menetap karena menikah dengan warga setempat.