Keren! Kemensos Selandia Baru Kucurkan Dana Miliaran Rupiah untuk Remaja Patah Hati

Ilustrasi patah hati
Sumber :
  • pexel

Gorontalo – Pemerintah Selandia Baru akan membantu menangani rasa galau dan patah hati remaja di negaranya. Caranya dengan menggelontorkan dana miliaran rupiah.

img_title Jangan Pendam Emosimu Bestie, Ini 6 Dampak Buruk Jika Kamu Melakukannya

Ini menjadi bukti bahwa pemerintah Selandia Baru memerhatikan betul kesehatan mental penduduknya.

Dilansir dari The Guardian, dana miliaran rupiah untuk menangan galau dan patah hati remaja ini dikucurkan lewat program bernama Love Better.

img_title 7 Tanda Seseorang Alami Stres dan Tekanan Emosional, Apakah Kamu Mengalaminya?

Program ini akan berlangsung selama tiga tahun dari Kementerian Sosial Selandia Baru dengan total biaya Rp60 miliar.

“Ini bukan pendekatan yang telah diuji coba oleh pemerintah lain di seluruh dunia,” kata wakil menteri untuk Pembangunan Sosial, Priyanca Radhakrishnan

img_title 5 Alasan Mengapa Gen-Z Rentan Terhadap Masalah Kesehatan Mental, Kamu Masuk Gen Apa Nih?

“Cara kami melakukan ini dengan menggunakan beberapa kisah nyata dan mentah, tetapi juga memastikan bahwa kami memiliki platform yang menjangkau kaum muda, yang juga merupakan kekuatan dari kampanye ini," lanjutnya. 

"Lebih dari 1.200 kiwi muda (sebutan untuk remaja di Selandia Baru) memberi tahu kami bahwa mereka membutuhkan dukungan untuk menghadapi pengalaman awal cinta dan rasa luka, dan perpisahan diidentifikasi sebagai tantangan umum," ujar Radhakrishnan lagi.

Putus rantai kekerasan keluarga dan seksual

Menurut Radhakrishnan, program Love Better merupakan bagian dari strategi nasional untuk menghapuskan kekerasan dalam keluarga dan kekerasan seksual.

Data Kementerian Kehakiman, setiap tahun, polisi setempat menyelidiki lebih dari 100.000 kasus kekerasan dalam keluarga.

Kemudian pada tahun 2020, polisi setempat menerima laporan kekerasan seksual sebanyak 9.723 laporan. Setengah dari pelapor berada di bawah 18 tahun saat kejadian.

"Selandia Baru memiliki statistik keluarga dan kekerasan seksual yang memalukan dan kami membutuhkan pendekatan inovatif untuk memutus siklus," pungkas Radhakrishnan.